Surabaya, 16 Oktober 2026 — Program Studi Linguistik Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial, Budaya, dan Politik (FISIBPOL), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sukses menyelenggarakan Seminar Nasional Linguistik Indonesia (SENALA) #3 Tahun 2026. egiatan yang berlangsung pada Selasa, 6 Oktober 2026 ini mengusung tema “Bersua dan Bersuara: Bahasa sebagai Ruang Identitas dan Penguatan Kesehatan Mental.”

Tema tersebut menempatkan bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai ruang bagi manusia untuk bertemu, membangun relasi, memahami pengalaman, serta mengekspresikan identitas dan dirinya. Semangat “bersua” merepresentasikan perjumpaan berbagai individu, pengalaman, budaya, dan perspektif melalui bahasa, sedangkan “bersuara” menegaskan pentingnya ruang bagi individu untuk menyampaikan pikiran, pengalaman, dan emosi serta membuat suaranya didengar.
Melalui tema tersebut, SENALA #3 menghadirkan tiga pembicara utama dari perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Pembicara pertama adalah Prof. Dr. Suhandano, M.A. dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Pembicara kedua, Harwintha Yuhria Anjarningsih, M.Sc., Ph.D., berasal dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia. Sementara itu, pembicara ketiga adalah dr. Damba Bestari, Sp.K.J. dari Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga.
Dalam pemaparannya yang bertajuk “Leksikon sebagai Ingatan Kolektif: Bahasa, Kebudayaan, dan Identitas Masyarakat”, Prof. Dr. Suhandano, M.A. membahas keterkaitan bahasa, kebudayaan, dan identitas masyarakat melalui leksikon. Warisan pangan Indonesia, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi, tetapi juga merepresentasikan identitas budaya yang diwariskan dan membangun rasa kepemilikan bersama dalam suatu masyarakat.
Pembicara kedua, Harwintha Yuhria Anjarningsih, M.Sc., Ph.D., menyampaikan materi berjudul “Linguistik Klinis, Identitas, dan Inklusi bagi Penutur dengan Gangguan Bahasa”. Materi ini menekankan pentingnya menciptakan ruang yang aman dan inklusif bagi individu dengan gangguan bahasa. Upaya tersebut dapat diwujudkan melalui penghapusan stigma dan perundungan, peningkatan pemahaman masyarakat, serta penyediaan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan individu.
Sementara itu, dr. Damba Bestari, Sp.K.J., membawakan materi “Bahasa sebagai Ruang Aman Mendengar Suara Perempuan dalam Pemulihan Kesehatan Mental”. Dalam pemaparannya, ia menggarisbawahi bahwa kesehatan mental tidak semata-mata merupakan persoalan medis. Bahasa memiliki peran penting dalam proses mengenali, mengungkapkan, dan memahami pengalaman psikologis seseorang. Dengan demikian, bahasa dapat menjadi jembatan awal dalam proses pemulihan, ketika seseorang memperoleh ruang yang aman untuk bercerita, didengarkan, dan dipahami.

Kegiatan tahun ini mempertemukan presenter dari UPN “Veteran” Jawa Timur dengan presenter dari berbagai perguruan tinggi dan instansi di luar UPNVJT. Berdasarkan sesi panel, institusi yang berpartisipasi antara lain Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Jambi, Universitas Hasanuddin, Universitas Sebelas Maret, Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Beragam topik dipresentasikan dalam sesi panel, mencakup kajian psikolinguistik, pemerolehan bahasa, linguistik klinis dan gangguan wicara, sosiolinguistik dan keragaman budaya, pragmatik dan komunikasi sosial, analisis wacana, gender dan konstruksi identitas, hingga media dan linguistik digital. Sesi presentasi diselenggarakan secara luring dan daring, sehingga membuka kesempatan partisipasi akademik yang lebih luas.
Seluruh rangkaian SENALA #3 2026 berlangsung dengan lancar dan diwarnai diskusi antara presenter, peserta, dan akademisi. Melalui SENALA #3, Program Studi Linguistik Indonesia UPN “Veteran” Jawa Timur berharap dapat terus menghadirkan ruang akademik yang mempertemukan berbagai perspektif serta memperluas jejaring dan kolaborasi antarinstitusi. Lebih dari sekadar forum pemaparan hasil penelitian, SENALA diharapkan menjadi tempat bagi berbagai gagasan untuk bertemu dan berbagai suara untuk mendapatkan ruangnya.
Bersua dalam keberagaman, bersuara untuk kebermaknaan. Bersua, Bersuara, bersama SENALA 2026.
