{"id":731,"date":"2024-09-24T22:01:06","date_gmt":"2024-09-24T15:01:06","guid":{"rendered":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/?p=731"},"modified":"2024-09-24T22:01:06","modified_gmt":"2024-09-24T15:01:06","slug":"pergelaran-wayang-kulit-lakon-wahyu-kasampurnan-mengajak-kita-semua-untuk-kembali-lagi-mengenali-jati-diri-sebagai-pribadi-bangsa-nusantara-yang-besar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/pergelaran-wayang-kulit-lakon-wahyu-kasampurnan-mengajak-kita-semua-untuk-kembali-lagi-mengenali-jati-diri-sebagai-pribadi-bangsa-nusantara-yang-besar\/","title":{"rendered":"Pergelaran Wayang Kulit Lakon \u201cWahyu Kasampurnan\u201d, Mengajak Kita Semua untuk Kembali Lagi Mengenali Jati Diri Sebagai Pribadi Bangsa Nusantara yang Besar."},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/lh7-rt.googleusercontent.com\/docsz\/AD_4nXcIB7hlZ_CZ4hJG2KHtTzaZIYSDeII31Lzd6QAr6_zbyuUzoz_Tr3WeHQBjgRpvLaEuWNkijfe_sO5jygNga8z6hILVXTnUC_Cnz16DHFa3nUF1cnkBBO-FLvlNUtL4nbmTVxQhZDj7a_iLOOQh226zoBz_wsg2lO_fGGFBt7-MRoc3o9CKSfs?key=vJh7SQu1ZaJdUt53GlUxAQ\" width=\"416\" height=\"234\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center\"><strong>Sumber:<\/strong> (Dokumentasi pribadi penulis)<\/p>\n\n\n\n<p>Surabaya, 3 Agustus 2024. Bertepatan dengan penutupan Hari Besar 1 Suro 1958 Je (Jawi), Paguyuban Keluarga Besar Penghayat Kerohanian Sapta Dharma se \u2013 Wilayah Surabaya kembali ikut berpartisipasi dalam rangkaian <em>Pahargyan Suro <\/em>(Penutupan 1 Suro) melalui Pergelaran Wayang Kulit dengan lakon \u201cWahyu Kasampurnan\u201d. Rangkaian acara yang diselenggarakan di Pendopo Jayengrana, Gedung Kesenian Cak Durasim, Jl. Genteng Kali No. 85, Surabaya, Jawa Timur dan dimulai pukul 19:00 WIB tersebut, mendapat antusiasme yang sangat baik dari kehadiran warga Surabaya hingga beberapa warga dari beberapa kota di Jawa Timur. Antusiasme warga tersebut merupakan petandana bahwasannya, meskipun di era modern dengan gaya hidup yang semakin beragam ini, nyatanya masih banyak orang \u2013 orang yang tidak dengan mudahnya begitu saja melupakan adat serta kebudayaan sebagai jati diri mereka. Antusiasme tersebut terlihat nyata dengan banyaknya para kaum muda \u2013 mudi yang menghadiri serta menyaksikan rangkaian acar hingga pergelaran wayang kulit di Pendopo Jayengrana, Gedung Kesenian Cak Durasim malam itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Acara yang setiap tahun diadakan oleh Paguyuban Keluarga Besar Penghayat Kerohanian Sapta Dharma se \u2013 Wilayah Surabaya dalam rangka merayakan suasana 1 Suro sebagai hari yang sakral serta suci bagi masyarakat Jawa tersebut, pada tahun ini mengambil tema <em>\u201cMemayu Hayuning Bawana\u201d <\/em>(Merawat Keselarasan Hidup dengan Alam Semesta), yang direpresentasikan melalui pergelaran wayang kulit oleh dalang Ki. Adiyanto, S.Sn, MM dengan lakon \u201cWahyu Kasampurnan\u201d yang jika dalam Bahasa Indonesia memiliki makna \u201cSebuah ilmu (kekuatan) untuk mengenali jati diri serta mengenali untuk apa kehidupan sebagai makhluk ciptaan Tuhan di alam semesta ini). Melalui lakon wayang kulit tersebut, dalang serta seluruh masyarakat yang hadir serta menyaksikan pergelaran yang berakhir hingga pukul 03:00 WIB tersebut ingin mengajak kita semua sebagai masyarakat untuk kembali lagi melestarikan, menghayati, hingga menerapkan segala nilai \u2013 nilai luhur kebijaksanaan akan bagaimana indah serta perlunya filosofi hakikat hidup yang telah diciptakan oleh leluhur kita di era modern saat ini sebagai manusia Nusantara yang kian hari semakin lupa hingga bahkan hilang jati dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan adanya acara serta pergelaran wayang yang dihadiri semua kalangan, tak terkecuali para kaum muda dan mudi tersebut. Bisa jadi menjadi titik awal bahwa, se-menarik, se-terkenal, dan se-bagus apapun kebudayaan maupun nilai \u2013 nilai kehidupan bangsa lain yang kita pelajari hingga kita terapkan, suatu saat nanti ada masanya dimana kita pada akhirnya menyadari bahwasannya bangsa kita nyatanya juga memiliki kebudayaan dan nilai \u2013 nilai luhur kebijaksanaan dalam kehidupan yang tak kalah jauh dari apa yang dimiliki oleh bangsa lain di hari ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Ditulis Oleh: Adityawan Hendratno<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sumber: (Dokumentasi pribadi penulis) Surabaya, 3 Agustus 2024. Bertepatan dengan penutupan Hari Besar 1 Suro 1958 Je (Jawi), Paguyuban Keluarga Besar Penghayat Kerohanian Sapta Dharma se \u2013 Wilayah Surabaya kembali ikut berpartisipasi dalam rangkaian Pahargyan Suro (Penutupan 1 Suro) melalui Pergelaran Wayang Kulit dengan lakon \u201cWahyu Kasampurnan\u201d. Rangkaian acara yang diselenggarakan di Pendopo Jayengrana, Gedung Kesenian Cak Durasim, Jl. Genteng Kali No. 85, Surabaya, Jawa Timur dan dimulai pukul 19:00 WIB tersebut, mendapat antusiasme yang sangat baik dari kehadiran warga Surabaya hingga beberapa warga dari beberapa kota di Jawa Timur. Antusiasme warga tersebut merupakan petandana bahwasannya, meskipun di era modern dengan gaya hidup yang semakin beragam ini, nyatanya masih banyak orang \u2013 orang yang tidak dengan mudahnya begitu saja melupakan adat serta kebudayaan sebagai jati diri mereka. Antusiasme tersebut terlihat nyata dengan banyaknya para kaum muda \u2013 mudi yang menghadiri serta menyaksikan rangkaian acar hingga pergelaran wayang kulit di Pendopo Jayengrana, Gedung Kesenian Cak Durasim malam itu. Acara yang setiap tahun diadakan oleh Paguyuban Keluarga Besar Penghayat Kerohanian Sapta Dharma se \u2013 Wilayah Surabaya dalam rangka merayakan suasana 1 Suro sebagai hari yang sakral serta suci bagi masyarakat Jawa tersebut, pada tahun ini mengambil tema \u201cMemayu Hayuning Bawana\u201d (Merawat Keselarasan Hidup dengan Alam Semesta), yang direpresentasikan melalui pergelaran wayang kulit oleh dalang Ki. Adiyanto, S.Sn, MM dengan lakon \u201cWahyu Kasampurnan\u201d yang jika dalam Bahasa Indonesia memiliki makna \u201cSebuah ilmu (kekuatan) untuk mengenali jati diri serta mengenali untuk apa kehidupan sebagai makhluk ciptaan Tuhan di alam semesta ini). Melalui lakon wayang kulit tersebut, dalang serta seluruh masyarakat yang hadir serta menyaksikan pergelaran yang berakhir hingga pukul 03:00 WIB tersebut ingin mengajak kita semua sebagai masyarakat untuk kembali lagi melestarikan, menghayati, hingga menerapkan segala nilai \u2013 nilai luhur kebijaksanaan akan bagaimana indah serta perlunya filosofi hakikat hidup yang telah diciptakan oleh leluhur kita di era modern saat ini sebagai manusia Nusantara yang kian hari semakin lupa hingga bahkan hilang jati dirinya. Dengan adanya acara serta pergelaran wayang yang dihadiri semua kalangan, tak terkecuali para kaum muda dan mudi tersebut. Bisa jadi menjadi titik awal bahwa, se-menarik, se-terkenal, dan se-bagus apapun kebudayaan maupun nilai \u2013 nilai kehidupan bangsa lain yang kita pelajari hingga kita terapkan, suatu saat nanti ada masanya dimana kita pada akhirnya menyadari bahwasannya bangsa kita nyatanya juga memiliki kebudayaan dan nilai \u2013 nilai luhur kebijaksanaan dalam kehidupan yang tak kalah jauh dari apa yang dimiliki oleh bangsa lain di hari ini. Ditulis Oleh: Adityawan Hendratno<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-731","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-seni-dan-budaya"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/731"}],"collection":[{"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=731"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/731\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":732,"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/731\/revisions\/732"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=731"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=731"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=731"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}