{"id":823,"date":"2024-10-15T17:30:16","date_gmt":"2024-10-15T10:30:16","guid":{"rendered":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/?p=823"},"modified":"2024-10-26T12:13:34","modified_gmt":"2024-10-26T05:13:34","slug":"akulturasi-budaya-pada-masjid-cheng-hoo-surabaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/akulturasi-budaya-pada-masjid-cheng-hoo-surabaya\/","title":{"rendered":"AKULTURASI BUDAYA PADA MASJID CHENG HOO SURABAYA"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"466\" src=\"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2024\/10\/masjid-cheng-hoo.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-824\" srcset=\"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2024\/10\/masjid-cheng-hoo.jpg 700w, https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2024\/10\/masjid-cheng-hoo-300x200.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Sumber: DetikTravel<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Masjid Cheng Hoo dibangun pada tahun 2001 untuk mengenang jasa Laksamana Cheng Hoo yang menyebarkan agama Islam ke Indonesia. Masjid ini dibangun atas inisiatif Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) sebagai bentuk kedekatan muslim Tionghoa dengan masyarakat lokal.<\/p>\n\n\n\n<p>Perancangan bangunan masjid tidak memiliki aturan khusus kecuali tentang syarat-syarat tempat untuk beribadah, sehingga bentuk bangunan masjid di Indonesia sangat beragam. Keberagaman pada arsitektur masjid dipengaruhi oleh akulturasi antara budaya Islam dengan budaya lokal. Wujud akulturasi budaya Islam, Cina, dan Jawa yang terlihat pada bangunan dan ornamennya:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Arsitektur: Masjid Cheng Hoo memiliki gaya arsitektur Tiongkok dengan atap yang tidak berbentuk kubah seperti masjid pada umumnya. Atap masjid menyerupai pagoda dengan bentuk segi delapan dan bertingkat.<\/li>\n\n\n\n<li>Ornamen: Masjid Cheng Hoo memiliki ornamen kaligrafi Arab berlafaz Allah yang membentuk segi delapan.<\/li>\n\n\n\n<li>Tiang penyangga: Masjid Cheng Hoo memiliki delapan tiang penyangga yang merupakan salah satu penerapan budaya Jawa, yaitu saka guru.<\/li>\n\n\n\n<li>Panjang bangunan: Panjang bangunan utama Masjid Cheng Hoo adalah 11 meter, yang menunjukan ukuran ka&#8217;bah.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image aligncenter size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"700\" height=\"525\" src=\"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2024\/10\/kubh-masjid-cheng-hoo.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-826\" srcset=\"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2024\/10\/kubh-masjid-cheng-hoo.jpg 700w, https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-content\/uploads\/sites\/4\/2024\/10\/kubh-masjid-cheng-hoo-300x225.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\"><em>Sumber: Bolong.id<\/em><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Akulturasi budaya Islam, Cina, dan Jawa pada bangunan&nbsp; Masjid&nbsp; Cheng&nbsp; Hoo Surabaya mengadopsi nilai-nilai&nbsp; yang&nbsp; baik&nbsp; dari&nbsp; kedua&nbsp; budaya dan membentuk&nbsp; integrasi&nbsp; antar&nbsp; dua budaya,&nbsp; dimana&nbsp; hasil percampuran&nbsp; kedua&nbsp; budaya&nbsp; tetap&nbsp; mempertahankan&nbsp; identitas&nbsp; budaya asli,&nbsp; baik&nbsp; dari&nbsp; segi&nbsp; budaya islam maupun &nbsp;budaya cina.Perwujudan&nbsp; dari akulturasi&nbsp; antar budaya islam dan cina tidak dibuat lebih dominan pada satu budaya saja.Oleh karena hal itu, pengaruh akulturasi budaya islam dan budaya cina pada bangunan Masjid Cheng Hoo Surabaya dimaksudkan agar menjadi simbol keharmonisan antar umat beragama dan juga simbol saling menghormati antar budaya.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis: IH<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masjid Cheng Hoo dibangun pada tahun 2001 untuk mengenang jasa Laksamana Cheng Hoo yang menyebarkan agama Islam ke Indonesia. Masjid ini dibangun atas inisiatif Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) sebagai bentuk kedekatan muslim Tionghoa dengan masyarakat lokal. Perancangan bangunan masjid tidak memiliki aturan khusus kecuali tentang syarat-syarat tempat untuk beribadah, sehingga bentuk bangunan masjid di Indonesia sangat beragam. Keberagaman pada arsitektur masjid dipengaruhi oleh akulturasi antara budaya Islam dengan budaya lokal. Wujud akulturasi budaya Islam, Cina, dan Jawa yang terlihat pada bangunan dan ornamennya: Akulturasi budaya Islam, Cina, dan Jawa pada bangunan&nbsp; Masjid&nbsp; Cheng&nbsp; Hoo Surabaya mengadopsi nilai-nilai&nbsp; yang&nbsp; baik&nbsp; dari&nbsp; kedua&nbsp; budaya dan membentuk&nbsp; integrasi&nbsp; antar&nbsp; dua budaya,&nbsp; dimana&nbsp; hasil percampuran&nbsp; kedua&nbsp; budaya&nbsp; tetap&nbsp; mempertahankan&nbsp; identitas&nbsp; budaya asli,&nbsp; baik&nbsp; dari&nbsp; segi&nbsp; budaya islam maupun &nbsp;budaya cina.Perwujudan&nbsp; dari akulturasi&nbsp; antar budaya islam dan cina tidak dibuat lebih dominan pada satu budaya saja.Oleh karena hal itu, pengaruh akulturasi budaya islam dan budaya cina pada bangunan Masjid Cheng Hoo Surabaya dimaksudkan agar menjadi simbol keharmonisan antar umat beragama dan juga simbol saling menghormati antar budaya. Penulis: IH<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[12,265],"tags":[103,100,102,105,101,363,106,104,107,43,38],"class_list":["post-823","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-arsitektur-dan-desain","category-tempat-wisata","tag-akulturasi","tag-arsitektur","tag-bangunan","tag-cina","tag-desain","tag-ih","tag-islam","tag-jawa","tag-masjid","tag-upnvjt","tag-wisata"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/823"}],"collection":[{"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=823"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/823\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1425,"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/823\/revisions\/1425"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=823"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=823"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/linguistik.upnjatim.ac.id\/dalamkata\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=823"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}